JURNAL PRATIKUM KIMIA ORGANIK II (PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK OKSALAT)
JURNAL PRATIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN 1
"PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK OKSALAT"
DISUSUN OLEH :
NABILAH ZAHRAH (A1C118026)
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
I.
Judul
: Pembuatan Senyawa
Organik Asam Oksalat
II.
Hari, Tanggal : Rabu, 11 Oktober 2020
III. Tujuan :
- Dapat memahami cara pembuatan asam oksalat dengan zat organic yang memiliki berat molekul besar sebagai bahan dasarnya
- Dapat memahami reaksi oksidasi dengan menggunakan oksidator kuat
- Dapat mengetahui sifat-sifat asam oksalat dengan kegunaannya
Asam Oksalat merupakan
asam dikarboksilat yang mempunyai berat molekul yang rendah. berwujud padat dan
warnanya putih dengan titik lelehnya sebesar 102℃, serta berbentuk Kristal
Putih. Asam oksalat akan diuraikan menjadi asam formiat dan karbondioksida. Jika
dipanaskan pada suhu diatas 175℃. Di Laboratorium asam oksalat dapat digunakan
sebagai pelarut senyawa senyawa organik atau sebagai titran pada titrasi. dalam
kehidupan sehari-hari digunakan sebagai bahan aditif pada makanan, campuran
produk barang ddetergent dan pembersih, sebagai bahan pelarut produk perawatan
kebersihan wanita asam oksalat dibuat melalui reaksi oksidasi dengan bahan baku
gula pasir dan oksidator asam kuat (Tim Kimia Organik 2, 2020).
Asam oksalat merupakan
senyawa dikarboksilat yang mengandung atom atom C yang mampu mengikat lebih
dari satu gugus hidroksil. asam ini mempunyai bentuk kristal rompis
piramid, tidak berwarna dan transparan tidak berbau dan
hidroskopis. asam oksalat mudah teroksidasi total dari oleh pengaruh panas yang
tinggi akan terurai menjadi CO2 dan asam formiat. secara alami asam
oksalat bisa terjadi dalam tumbuh-tumbuhan dan dapat dibuat dengan ekstraksi
alkali dari limbah penggesgajian (Mastuti, 2015).
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4
dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam oksalat termasuk ke dalam asam dikarboksilat yang paling sederhana
dengan rumus HOOC-COOH. Asam oksalat mempunyai sifat asam yang lebih kuat
dibandingkan asam asetat. Asam oksalat (H2C2O4)
ada 2 macam yaitu asam oksalat anhidrat dan asam oksalat
dihidrat. Asam dikarboksilat paling sederhana ini biasa digambarkan
dengan rumus HOOC-COOH. Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali
lebih kuat daripada asam asetat. Di-anionnya, dikenal sebagai oksalat, juga
agen pereduktor. Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam
oksalat, contoh terbaik adalah kalsium oksalat(CaOOC-COOCa), penyusun utama
jenis batu ginjal yang sering ditemukan (Lehninger, 1984).
Asam oksalat ada 2 macam
yaitu asam oksalat anhidrat dan asam oksalat dihidrat. Asam oksalat anhidrat
(H2C2O4) yang mempunyai berat molekul 90,04 gr/mol dan mempunyai melting point
187oC. Sifat dari asam oksalat anhidrat adalah tidak berbau berwarna putih, dan
tidak menyerap air. Asam oksalat dihidrat merupakan jenis asam oksalat yang
dijual di pasaran yang mempunyai rumus bangun (H2C2O4.2H2O), dengan berat
molekul 126,07 gr/mol dan melting point 101,5oC dan mengandung 71,42 % asam
oksalat anhidrat dan 28,58 % air, bersifat tidak bau dan dapat kehilangan
molekul air apabila dipanaskan sampai suhu 100oC (Fessenden dan Fessenden,
1992).
Titik leleh
suatu zat padat adalah suatu temperature dimana terjadinya keadaansetimbang
antara fasa padat dan fasa cair pada tekanan satu atmosfer. Untuk mengukur
titik leleh suatu senyawa dapat digunakan alat melthing point.
Prinsipnya, yaitu suatu zat bisa meleleh karena ikatan antar molekul terputus
dimana putusnya molekul itu yangmemerlukan suhu berbeda-beda tergantung pada
kekuatan ikatan tersebut. Semakin kuat ikatannya, maka semakin tinggi suhu yang
dibutuhkan untuk memutuskan ikatantersebut. Dengan adanya zat pengotor, ikatan
yang terputus akan lebih banyak atau intinya tergantung pada zat pengotornya.
Titik leleh juga bisa untuk mengukur gaya intermolekul antar senyawa dimana
makin tinggi titik leleh maka makin besar gaya intermolekulernya, beberapa
molekul dengan berat molekul sama, maka molekul yanglebih polar dan struktur
molekul yang lebih simetris akan lebih tinggi. Angka titik lelehdan kisarannya
tergantung pada kecepatan pemanasan, keakuratan pada thermometer yang digunakan
dan sifat padatan senyawa yang terdapat pada suatu padatan yang telah
diisolasi, rentang lelehannya harus ditentukan untuk memastikan identitas dan
kemurniannya. (Poedjiadi, 1994).
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat :
- Labu dara datar 750 ml
- Corong Buchner
- Corong gelas
- Gelas piala 500ml
- Kasa,kaki tiga, Bunsen
- Penangas
- Gelas ukur
- Termometer
- Pengaduk
B. Bahan :
- Gula pasir 200 gr
- Asam nitrat pekat 100ml
- Etanol
VI.
PROSEDUR KERJA
- Dimasukkan 10 gr gula pasir ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan
50 ml HNO3 pekat
- Dipanaskan diatas penangas air secara perlahan-lahan sampai
mendidih
- Bila sudah timbul uap coklat NO2, angkat labu datar tadi,
pindahkan untuk melanjutkan reaksi tanpa pemanasan, biarkan selama 15 menit
- Dituangkan hasil reaksi tadi kedalam gelas piala berukuran
100ml, Erlenmeyer dicuci dengan 10ml aquades dingin dan hasil cucian dimasukkan
kedalam gelas piala lagi, tambahkan 10ml HNO3 pekat
- Diuapkan diatas penangas air sampai volume cairan tinggal 10ml
- Ditambahkan 20ml aquades kedalam larutan diatas, kemudian diuapkan lagi sampai volume tinggal 10ml
- Didinginkan larutan dalam es sambil diaduk, kristal asam oksalat
segera terbentuk
- Disaring kristal asam oksalat ang terbentuk , kemudian rekristalisasi
asam oksalat yang didapatkan dengan melarutkannya dalam air panas lalu
didinginkan
- Disaring , keringkan dan periksa titik lelehnya, titik lelehh asam oksalat murni .....°C bila belum murni maka,
- Dimurnikan lagi
kristal asam oksalat dengan rekristalisasi kembali diddadlam air panas
Berikut ini adalah video sintesis asam oksalat :
https://youtu.be/vXpUxUkMWuwPERMASALAHAN :
- Bagaimana jika yang direaksikan asam nitrat pekat suatu senyawa aromatik, reaksi apa yang akan terjadi?
- Mengapa saat pembuatan
asam oksalat, pada tahap akhir harus dilakukan rekristalisasi?
- Mengapa asam oksalat
pada pengaruh panas yang tinggi akan terurai menjadi CO2 dan asam formiat?

Baiklah perkenalkan nama sya Sandi dengan Nim A1C118041. Disini saya ingin menjawab permasalahan dari saudari Nabila nomor 2.Mengapa saat pembuatan asam oksalat, pada tahap akhir harus dilakukan rekristalisasi?Menurut saya hal itu dilakukan karena agr mendapatkan hasil kristal oksalat yang murni. Terimakasih
BalasHapusSaya Denora Situmorang (056) akan mencoba menjawab pertanyaan no 3, karena jika asam oksalat dipanaskan pada suhu tinggi maka akan terdekomposisi menjadi karbondioksida dan asam formiat
BalasHapusBaiklah saya Firda Oetary (021) akan mencoba menjawab permasalahan saudari no 1 dimana nantinya jika asam nitrat di reaksikn dengan senyawa aromatik Akan membentuk senyawa nitrobenzena.
BalasHapusTerima kasih